muzaki little pharaoh
Jumat, 19 Desember 2014
Kamis, 04 Desember 2014
Cara Sign In ke Yahoo Messenger
Dokumen ini menjelaskan cara sign in ke Yahoo Messenger.
- Pilih salah satu cara ini untuk membuka Messenger untuk sign in ke Yahoo Messenger di komputer Anda:
- Klik ikon desktop Yahoo Messenger.
- Klik tombol Mulai Windows, pilih Program, dan dari menu program, pilih Yahoo Messenger. - Layar sign in Messenger terbuka.

Masukkan ID Yahoo dan kata sandi Anda:
- Di kolom ID Yahoo, masukkan ID Yahoo Anda..
- Catatan: Anda dapat sign in ke Yahoo Messenger menggunakan domain Yahoo apa pun (misalnya, yahoo.com, ymail.com, atau rocketmail.com) atau domain partner Yahoo. Namun, Anda tidak bisa sign in ke Yahoo Messenger menggunakan ID pengguna Facebook atau Google. - Di kolom Kata Sandi, masukkan kata sandi yang terkait dengan ID Yahoo Anda.
- Lihat pilihan sign in Yahoo Messenger opsional lain yang mungkin ingin Anda pilih:
- Ingat ID & kata sandi saya:
Pilih opsi ini agar jendela Sign In otomatis menampilkan ID Yahoo dan
kata sandi Anda. Jika diaktifkan, Anda hanya tinggal mengklik tombol Sign In. Ini adalah pilihan yang tepat jika menggunakan komputer pribadi.
Penting!
Jika lebih dari satu orang menggunakan Yahoo Messenger di komputer ini
(seperti di tempat umum, misalnya perpustakaan), jangan gunakan Ingat ID & Kata Sandi saya. Anda ingin membuat Yahoo Messenger meminta ID Yahoo dan kata sandi setiap kali dijalankan di komputer umum. - Sign in otomatis: Pilih opsi ini jika Anda ingin sign in otomatis setiap kali menghidupkan komputer.
- Sign in sebagai tidak terlihat: Pilih opsi ini jika Anda ingin tetap tidak terlihat.
- Ingat ID & kata sandi saya:
Pilih opsi ini agar jendela Sign In otomatis menampilkan ID Yahoo dan
kata sandi Anda. Jika diaktifkan, Anda hanya tinggal mengklik tombol Sign In. Ini adalah pilihan yang tepat jika menggunakan komputer pribadi.
- Klik Sign In dan Yahoo Messenger terbuka.
Jika Anda tidak memiliki ID Yahoo, klik Dapatkan ID Yahoo baru di bawah kolom Kata Sandi untuk membuat akun Yahoo gratis.
Jika lupa kata sandi, klik Lupa Kata Sandi Anda? yang terletak di bagian bawah layar untuk mendapatkan kata sandi baru.
Pelajari lebih lanjut tentang keamanan dan privasi:
- Yahoo mengatur keamanan Anda dengan serius dan berupaya untuk melindungi informasi Anda. Untuk mempelajari lebih lanjut tentang keamanan, buka Informasi Keamanan di Kebijakan Privasi Yahoo.
- Untuk mempelajari lebih lanjut tentang cara mengurangi risiko keamanan saat online, kunjungi halaman informasi Yahoo Security Center.
- Jika Anda baru mengenal Yahoo Messenger, buka artikel bantuan Persiapan Awal: Dasar Pesan Instan.
- Jika Anda ingin mengubah kata sandi, buka artikel bantuan Cara Mengubah Kata Sandi Anda.
Makalah Qadariyah Dan Jabariyah
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembahasan ilmu
kalam sebagai hasil pengembangan masalah keyakinan agama belum muncul di zaman
Nabi SAW. Umat di masa itu menerima sepenuhnya atas apa yang disampaikan Nabi
SAW. Mereka tidak mempertanyakan secara filosofis apa yang diterima itu. Kalau
terdapat kesamaran pemahaman, mereka langsung bertanya kepada Nabi dan umat pun
merasa puas dan tenteram. Hal itu berubah setelah Nabi wafat. Nabi tempat
bertanya sudah tidak ada. Pada waktu itu pengetahuan dan budaya umat semakin
berkembang pesat karena terjadi persentuhan dengan berbagai bangsa dan budaya
yang lebih maju.
Al-Syahrastānī
menyebutkan beberapa prinsip yang merupakan dasar bagi pembagian aliran teologi
dalam Islam. Di antara prinsip fundamental yang dibahas dalam ‘ilmu al-kalām
yakni berkenaan dengan qadar dan keadilan Tuhan. Ketika ulama kalam membicarakan
masalah qada dan qadar, dan hal itu mendorong mereka untuk membicarakan asas
taklif, pahala dan siksa, mereka pun berselisih pendapat.
Tuhan adalah
pencipta segala sesuatu, pencipta alam semesta termasuk di dalamnya perbuatan
manusia itu sendiri. Tuhan juga bersifat Maha Kuasa dan memiliki kehendak yang
bersifat mutlak dan absolut. Dari sinilah banyak timbul pertanyaan sampai di
manakah manusia sebagai ciptaan Tuhan berg.antung pada kehendak dan kekuasaan
mutlak Tuhan dalam menentukan perjalanan hidupnya? Apakah Tuhan memberi
kebebasan terhadap manusia untuk mengatur hidupnya? Ataukah manusia terikat
seluruhnya pada kehendak dan kekuasaan Tuhan yang absolut?
Menanggapi
pertanyaan-pertanyaan tersebut maka muncullah dua paham yang saling bertolak
belakang berkaitan dengan perbuatan manusia. Kedua paham tersebut dikenal
dengan istilah Qadariyah dan Jabariah. Dalam makalah ini kami kemukakan
pemahaman kedua aliran tersebut beserta hasil pemikiran-pemikirannya.
B. Rumusan Masalah
Adapun Rumusan
Masalah yang terdapat dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Apa
pengertian aliran qodariyah dan jabariyah?
2. Apa
latar belakang munculnya aliran qodariyah dan jabariyah?
3. Apa
doktrin-doktrin pokok aliran qodariyah dan jabariyah?
4. Bagaimana
sejarah perkembangan aliran qodariyah dan jabariyah?
C. Tujuan
Dengan melihat
rumusan masalah yang telah dipaparkan diatas, maka tujuan dari penulisan
makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui
dan memahami pengertian aliran qodariyah dan jabariyah?
2. Mengetahui
dan memahami latar belakang munculnya
aliran qodariyah dan jabariyah?
3. Mengetahui
dan memahami doktrin-doktrin pokok aliran qodariyah dan jabariyah?
4. Mengetahui
dan memahami sejarah perkembangan aliran qodariyah dan jabariyah?
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Aliran Qodariyah dan Jabariyah
Istilah
Qadariyah mengandung dua arti, pertama, orang-orang yang memandang manusia
berkuasa atas perbuatannya dan bebas untuk berbuat. Dalam arti ini Qadariyah
berasal dari kata qadara yang artinya berkuasa. Kedua, orang-orang yang
memandang nasib manusia telah ditentukan sejak azali. Dengan demikian, qadara
di sini berarti menentukan, yaitu ketentuan Tuhan atau nasib.
Qadariyah adalah satu aliran dalam teologi Islam yang berpendirian bahwa manusia memiliki kemerdekaan dan kebebasan dalam perbuatan dan perjalanan hidupnya. Dengan demikian nama Qadariyah berasal dari pengertian bahwa manusia mempunyai qudrah atau kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya , dan bukan berasal dari pengertian bahwa manusia terpaksa tunduk pada qadar Tuhan. Dalam istilah inggris paham ini dikenal dengan nama free will dan free act.
Qadariyah adalah satu aliran dalam teologi Islam yang berpendirian bahwa manusia memiliki kemerdekaan dan kebebasan dalam perbuatan dan perjalanan hidupnya. Dengan demikian nama Qadariyah berasal dari pengertian bahwa manusia mempunyai qudrah atau kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya , dan bukan berasal dari pengertian bahwa manusia terpaksa tunduk pada qadar Tuhan. Dalam istilah inggris paham ini dikenal dengan nama free will dan free act.
Menurut
mereka manusia bebas dan dalam memilih apa saja yang akan dikerjakan atau
ditinggalkan, tidak ada seorang pun yang memiliki kuasa atas kemauannya kecuali
dirinya sendiiri, dia bisa berpindah kapan pun dia mau, dia bisa beriman atau
kafir jika mau dan mengerjakan apa saja yang diinginkannya. Karena kalau tidak,
maka dia bagaikan sebuah alat atau seperti halnya dengan benda-benda mati
lainnya. Sehingga asas taklif atau pemberian tanggung jawab, pemberian pahala
dan siksa tidak ada gunanya.
Sedangkan
nama Jabariyah berasal dari kata Arab jabara yang berarti alzama hu
bi fi’lih, yaitu berkewajiban atau terpaksa dalam pekerjaannya. Manusia
tidak mempunyai kemampuan dan kebebasan untuk melakukan sesuatu atau
meninggalkan suatu perbuatan. Ia dipaksa melakukan kehendak atau perbuatannya
sesuai dengan yang telah ditetapkan oleh Tuhan sejak zaman azali. Dalam
filsafat Barat aliran ini desebut Fatalisme atau Predestinationisme.
Paham ini menganggap semua takdir itu dari Allah. Oleh karena itu menurut
mereka, seseorang menjadi kafir atau muslim adalah atas kehendak Allah.
B. Latar Belakang Munculnya Aliran Qodaryah dan
Jabariyah
Munculnya kedua
paham ini tetap mempunyai kaitan dengan aliran-aliran Kalam sebelumnya yakni
Khawārij dan Murji’ah, sementara itu dalam sejarah teologi Islam dikenal
seseorang seorang bernama Washil bin ‘Atha’ yang lahir di
Madinah di tahun 700 M dan mendirikan aliran teologi baru yang berbeda dengan
kedua aliran teologi sebelumnya dan
dikenal dengan nama Mu’tazilah. Pada masa inilah umat Islam telah banyak
mempunyai kontak dengan keyakinan-keyakinan dan pemikiran-pemikiran dari
agama-agama lain dan filsafat Yunani.
Sebagai akibat
dari kontak ini masuklah ke dalam Islam paham Qadariyah yang tidak diketahui
dengan pasti kapan paham Qadariyah ini timbul dalam sejarah perkembangan
teologi Islam. Tetapi menurut keterangan ahli-ahli teologi Islam, bahwa
golongan ini dimunculkan pertama kali dalam Islam oleh Ma’bad al-Juhany di
Bashrah. Dikatakan bahwa yang pertama kali berbicara dan berdebat masalah qadar
adalah seorang Nasrani yang masuk Islam di Irak. Kemudian darinyalah paham ini
diambil oleh Ma’bad al-Juhany dan temannya Ghailān al-Dimasyqi. Paham Qadariyah
yang muncul sekitar tahun 70 H (689 M) ini memiliki ajaran yang sama dengan
Mu’tazilah. Yaitu bahwa manusia mampu mewujudkan tindakan atau perbuatannya
sendiri. Tuhan tidak campur tangan dalam perbuatan manusia itu, dan mereka
menolak segala sesuatu terjadi karena qada dan qadar. Ma’bad al-Juhany sebagai
tokoh utama paham Qadariyah yang menyebarkan paham Qadariyah di Irak ini juga
berguru dengan Hasan al-Bashri yang juga merupakan guru Wāshil bin ‘Atha’
pendiri aliran Mu’tazilah.
Adapun aliran
sebaliknya, yaitu dikenal dengan paham Jabariyah sebagai antitesa dari paham
Qadariyah. Paham Jabariyah ini lahir bersamaan dengan paham Qadariyah. Di dalam
buku Sarh al-‘Uyūn dikatakan bahwa paham Jabariyah ini berakar dari orang-orang
Yahudi di Syām, lalu mereka mengajarkannya kepada sebagian orang muslim saat
itu, setelah mempelajarinya kemudian mereka menyebarkannya.
Tetapi dari
perkataan ini tidak berarti bahwa paham ini semata-mata berakar dari Yahudi
saja, karena orang Persia juga telah mengenal pemikiran tersebut sebelumnya. Golongan
muslim yang pertama kali memperkenalkan paham Jabariyah ini adalah al-Ja’d bin
Dirham, tetapi waktu itu belum begitu berkembang. Kemudian Jahm bin Shafwān
dari Khurāsān mempelajari paham ini dari al-Ja’d bin Dirham yang kemudian
menyebar luaskannya. Jahm yang terdapat dalam aliran Jabariyah ini sama dengan
Jahm yang mendirikan aliran al-Jahmiyyah dalam kalangan Murjiah. Sehingga paham
Jabariyah juga identik dengan sebutan Jahmiyyah karena berkembang setelah
disebarluaskan oleh Jahm bin Shafwān.
C. Doktrin-doktrin Pokok Aliran Qodariyah dan Jabariyah
Adapun
doktrin yang dikembangkan oleh kaum qadariyah ini diantaranya:
1. Manusia mempunyai daya dan kekuatan
untuk menentukan nasibnya, melakukan segala sesuatu yang diinginkan baik dan
buruknya. meyakini bahwa Allah tidak ikut campur dalam kehidupan manusia
sehingga manusia memiliki wewenang penuh dalam menentukan hidupnya dan dalam
menentukan sikap. Jadi surga atau neraka yang didapatnya bukan merupakan takdir
Tuhan melainkan karena kehendak dan perbuatannya sendiri.
2. Qadariyah menyatakan bahwa manusia
yang berbuat baik akan mendapat surga, sementara yang berbuat jahat akan
mendapat ganjaran di neraka, kedua keputusan itu merupakan konsekuensi dari
perbuatan yang dilakukan manusia berdasarkan kehendak dan pilihannya sendiri.
3. Takdir merupakan ketentuan Allah
terhadap alam semesta sejak zaman azali, manusia menyesuaikan terhadap alam
semesta melalui upaya dan pemikirannya yang tercermin dalam kreatifitasnya.Secara
alamiah manusia mempunyai takdir yang tak dapat diubah mengikuti hukum alam
seperti tidak memiliki sayap untuk terbang, tetapi manusia memiliki daya untuk
mengembangkan pemikiran dan daya kreatifitasnya sehingga manusia dapat
menghasilkan karya untuk mengimbangi atau mengikuti hukum alam tersebut dengan
menciptakan pesawat terbang.
Dan
doktrin-doktrin pokok aliran jabariyah adalah sebagai berikut:
1. Jabariyah meyakini bahwa segala perbuatan manusia telah
diatur dan dipaksa oleh Allah sehingga manusia tidak memiliki kemampuan dan
kehendak dalam hidup.
2. Jabariyah menyatakan bahwa surga dan neraka tidak kekal,
setiap manusia pasti merasakan surga dan neraka, setelah itu keduanya akan
lenyap.
3.
Takdir dalam pandangan kaum jabariyah memiliki makna bahwa segala perbuatan
manusia telah ditentukan dan digariskan Allah SWT, sehingga tidak ada pilihan
bagi manusia.
D.
Sejarah Perkembangan Aliran Qodariyah dan Jabariyah
Tidak
diketahui dengan pasti kapan paham Qadariyah ini timbul dalam sejarah
perkembangan teologi Islam. Tetapi menurut keterangan ahli-ahli teologi Islam,
bahwa golongan ini dimunculkan pertama kali dalam Islam oleh Ma’bad al-Juhany
di Bashrah. Dikatakan bahwa yang pertama kali berbicara dan berdebat masalah
qadar adalah seorang Nasrani yang masuk Islam di Irak. Kemudian darinyalah
paham ini diambil oleh Ma’bad al-Juhany dan temannya Ghailān al-Dimasyqi.
Ma’bad termasuk tabi’in atau generasi kedua setelah Nabi. Tetapi ia memasuki
lapangan politik dan memihak ‘Abd al-Rahmān Ibn al-Asy’as, gubernur Sajistan,
dalam menentang kekuasaan Bani Umayyah. Ma’bad al-Juhany akhirnya mati terbunuh
dalam pertempuran melawan al-Hajjaj tahun 80 H.
Paham
Qadariyah yang muncul sekitar tahun 70 H (689 M) ini memiliki ajaran yang sama
dengan Mu’tazilah. Yaitu bahwa manusia mampu mewujudkan tindakan atau
perbuatannya sendiri. Tuhan tidak campur tangan dalam perbuatan manusia itu,
dan mereka menolak segala sesuatu terjadi karena qada dan qadar. Ma’bad
al-Juhany sebagai tokoh utama paham Qadariyah yang menyebarkan paham Qadariyah
di Irak ini juga pernah berguru kepada Hasan al-Bashri yang juga merupakan guru
Wāshil bin ‘Atha’ pendiri aliran Mu’tazilah.
Paham free will dan free act beranggapan bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk bertindak (qudrah) dan memilih atau berkehendak (irādah). Dia yang melekukan, dia pula yang bertanggung jawab di hadapan Allah.
Paham free will dan free act beranggapan bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk bertindak (qudrah) dan memilih atau berkehendak (irādah). Dia yang melekukan, dia pula yang bertanggung jawab di hadapan Allah.
Dari
segi politik, Qadariyah merupakan tantangan bagi dinasti Bani Umayyah, sebab
dengan paham yang disebarluaskannya dapat membangkitkan pemberontakan. Dengan
paham itu maka setiap tindakan bani Umayyah yang negatif, akan mendapat reaksi
keras dari masyarakat. Karena kehadiran Qadariyah merupakan isyarat penentangan
terhadap politik pemerintahan Bani Umayyah, walaupun ditekan terus oleh
pemerintahan tetapi ia tetap berkembang. Dalam paham qodariyah terdapat banyak
kesamaan dengan aliran Mu’tazilah.
Sepeninggal Ma’bad al-Juhany, Ghailān al-Dimasyqi sendiri terus menyiarkan paham Qadariyahnya di Damaskus, tetapi di sana dia mendapat tekanan dari Khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Azīz (717-720 M). Setelah ‘Umar wafat ia meneruskan kegiatannya yang lama, hingga akhirnya ia mati dihukum oleh Hisyam bin ‘Abdul malik (724-743 M/105-125 H). Ghailān al-Dimasyqi terus mengembangkan paham dan ajaran Qadariyah ini sempai ke Iran.
Sepeninggal Ma’bad al-Juhany, Ghailān al-Dimasyqi sendiri terus menyiarkan paham Qadariyahnya di Damaskus, tetapi di sana dia mendapat tekanan dari Khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Azīz (717-720 M). Setelah ‘Umar wafat ia meneruskan kegiatannya yang lama, hingga akhirnya ia mati dihukum oleh Hisyam bin ‘Abdul malik (724-743 M/105-125 H). Ghailān al-Dimasyqi terus mengembangkan paham dan ajaran Qadariyah ini sempai ke Iran.
Sementara
golongan muslim yang pertama kali memperkenalkan paham Jabariyah ini adalah
al-Ja’d bin Dirham, tetapi waktu itu belum begitu berkembang. Kemudian Jahm bin
Shafwān dari Khurāsān mempelajari paham ini dari al-Ja’d bin Dirham yang
kemudian menyebar luaskannya. Jahm yang terdapat dalam aliran Jabariyah ini
sama dengan Jahm yang mendirikan aliran al-Jahmiyyah dalam kalangan Murjiah.
Sehingga paham Jabariyah juga identik dengan sebutan Jahmiyyah karena
berkembang setelah disebarluaskan oleh Jahm bin Shafwān yang merupakan Sebagai sekretaris Syurayh ibn al-Hārits, ia
turut dalam gerakan melawan kekuasaan Bani Umayyah. Dalam perlawanan tersebut
Jahm ditangkap dan dihukum mati tahun 131 H.
Perbedaan
pandangan dan persepsi kedua paham ini juga dipergunakan oleh budaya politik
sesuatu tempat dan keadaan. Golongan Murjiah menganggap bahwa penderitaan
rakyat di satu pihak dan kekejaman penguasa di pihak lain itu adalah sudah
takdirnya demikian, seperti dinyatakan oleh Yāzid bin Mu’āwiyah waktu dia
menerima kepala Sayidinā Husain bin ‘Abi Thālib dibawa kepadanya dia berkata
dan langsung menyitir ayat alquran QS. Ali ‘Imrān(3) ayat 26. Dengan
mengemukakan ayat ini, Yāzid bermaksud mengatakan bahwa apa yang diderita oleh
Husain bin ‘Ali yang dibunuh dengan kejam oleh serdadu Yāzid bin Mu’āwiyah dari
dinasti Umayyah itu, adalah sudah kehendak Tuhan, bukan kehendak Yāzid dan
serdadunya. Agar umat yang mendukung Husain tidak marah atau dendam, karena itu
“takdir” Tuhan semata-mata. Inilah ajaran Murjiah yang sangat kaku, di negeri
yang dikuasai diktator despoot dan tirani. Hal ini ditentang oleh golongan
Qadariyah, karena mereka menganggap bahwa tirani kekejaman dan penindasan oleh
manusia atas manusia itu harus dilawan karena bertentangan dengan hukum Tuhan.
Dan penguasa yang tirani harus ditumbangkan, karena dalam pandangan dan
pemahaman mereka tidak akan mengubah suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan
yang ada pada diri mereka sendiri.
Kemudiam
dalam perkembangannya aliran qodariyah ini terbagi menjadi dua kelompok, yaitu
kelompok ekstrim dan moderat.
1. Jabariyah
murni/ekstrim, kelompok ini beranggapan bahwa perbuatan-perbuatan diciptakan
Tuhan di dalam diri manusia, tanpa ada kaitan sedikit pun dengan manusia, tidak
ada kekuasaan, kemauan dan pilihan baginya. Manusia sama sekali tidak mampu
untuk berbuat apa-apa, dan tidak memiliki daya untuk berbuat. Manusia bagaikan
selembar bulu yang diterbangkan angin, mengikuti takdir yang membawanya.
Manusia dipaksa, sama dengan gerak yang diciptakan Tuhan dalam benda-benda
mati. Oleh karena itu manusia dikatakan “berbuat” bukan dalam arti sebenarnya,
tetapi dalam arti majāzī atau kiasan. Seperti halnya “perbuatan” yang berasal
dari benda-benda mati. Misalnya dikatakan: pohon berbuah, air mengalir,batu
bergerak, matahari terbit dan terbenam, langit mendung dan menurunkan hujan, bumi
bergerak dan menghasilkan tumbuh-tumbuhan, dan sebagainya. Selain itu, menurut
mereka pahala dan dosa ditentukan sebagaimana halnya dengan semua perbuatan.
Jika demikian, maka taklif atau pelaksanaan kewajiban dan tanggung jawab juga
merupakan suatu paksaan. Kalau seseorang mencuri atau minum khamr misalnya,
maka perbuatannya itu bukanlah terjadi atas kehendaknya sendiri, tetapi timbul
karena qada dan qadar Tuhan yang menghendaki demikian. Dengan kata lain bahwa
ia mencuri dan meminum khamr bukanlah atas kehendaknya tetapi Tuhanlah yang
memaksanya untuk berbuat demikian.
2. Jabariyah
moderat, yang dibawa oleh al-Husain bin Muhammad al-Najjār. Dia mengatakan
bahwa Allah berkehendak artinya bahwa dia tidak terpaksa atau dipaksa. Allah
adalah pencipta dari semua perbuatan manusia, yang baik dan yang buruk, yang
benar dan yang salah, tetapi manusia mempunyai andil dalam perwujudan
perbuatan-perbuatan itu. Tenaga yang diciptakan dalam diri manusia mempunyai
efek untuk mewujudkan perbuatan-perbuatannnya. Dan inilah yang disebut dengan
kasb. Paham jabariyah moderat ini juga
dibawakan oleh Dhirār bin ‘Amru. Ketika dia mengatakan bahwa
perbuatan-perbuatan manusia pada hakikatnya diciptakan oleh Allah, dan manusia
juga pada hakikatnya memiliki bahagian untuk mewujudkan berbuatannya. Dengan
demikian, menurutnya bisa saja sebuah tindakan dilakukan oleh dua pelaku.
Paham moderat ini mengakui adanya intervensi manusia dalam perbuatannya. Karena manusia telah memiliki bahagian yang efektif dalam mewujudkan perbuatannya. Sehingga manusia tidak lagi seperti wayang yang digerakkan dalang. Menurut paham ini, Tuhan dan manusia bekerja sama dalam mewujudkan perbuatan-perbuatan manusia, yang baik ataupun yang buruk.
Paham moderat ini mengakui adanya intervensi manusia dalam perbuatannya. Karena manusia telah memiliki bahagian yang efektif dalam mewujudkan perbuatannya. Sehingga manusia tidak lagi seperti wayang yang digerakkan dalang. Menurut paham ini, Tuhan dan manusia bekerja sama dalam mewujudkan perbuatan-perbuatan manusia, yang baik ataupun yang buruk.
BAB
III
KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Qodariyah adalah suatu aliran yang percaya bahwa
segala tindakan manusia tidak diintervensi oleh Tuhan, melainkan mereka sendiri
yang melakukan. Qodariyah pertama kali dimunculkan oleh Ma’bad Al Jauhari dan
Ghailan Ad-Dimasyqi, ada pula pendapat yang mengatakan bahwa yang pertama kali
memunculkan faham Qadariyah adalah orang Irak yang semula beragama Kristen
kemudian masuk Islam dan kembali lagi ke agama Kristen .
Jabariyah adalah paham yang
menganggap semua takdir itu dari Allah. Dan yang
pertama kali mengenalkannya adalah Ja’ad bin Dirham kemudian disebarkan oleh
Jahm bin Shafwan dari Khurasan. Faham Al-Jabar juga dikembangkan oleh tokoh
lainnya diantaranya Al-Husain bin Muhammad An-Najr dan Ja’ad bin Dirrar. Faham
Al-Jabar sejak awal periode Islam. Benih-benih itu terlihat pada masa
Rasulullah tentang taqdir dan qadha’ dan qadar.
B. Saran
Dengan demikian sebagai penulis
makalah ini kami meminta saran dan kritik karena masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki agar teman-teman mahasiswa yang
membaca ataupun Dosen yang membimbing
agar memberikan masukan demi kesempurnaan penulisan Makalah yang berjudul ”Aliran Qodariyah dab Jabariyah”.
DAFTAR
PUSTAKA
Mustopa, Mazhab-Mazhab Ilmu Kalam, (Cirebon :
IAIN Nurjati publisher, 2011)
Abbas Sirajdjuddin, I’tiqad ahlussunah waljamaah (Jakarta
: Pustaka Tarbiyah Baru, 2008)
Langganan:
Postingan (Atom)
