Jumat, 19 Desember 2014


Untuk rekan rekan Mahasiswa Institut Agama Islam Darussalam yang pake matic dan suka Touring mending jangan pake lama,Ayo Gabung Darussalam Matic Club, Join

Kamis, 04 Desember 2014

Cara Sign In ke Yahoo Messenger

Dokumen ini menjelaskan cara sign in ke Yahoo Messenger.
  • Pilih salah satu cara ini untuk membuka Messenger untuk sign in ke Yahoo Messenger di komputer Anda:
    - Klik ikon desktop Yahoo Messenger.
    - Klik tombol Mulai Windows, pilih Program, dan dari menu program, pilih Yahoo Messenger.
  • Layar sign in Messenger terbuka.
Jendela Sign In Messenger 9
Masukkan ID Yahoo dan kata sandi Anda:
  1. Di kolom ID Yahoo, masukkan ID Yahoo Anda..
    - Catatan: Anda dapat sign in ke Yahoo Messenger menggunakan domain Yahoo apa pun (misalnya, yahoo.com, ymail.com, atau rocketmail.com) atau domain partner Yahoo. Namun, Anda tidak bisa sign in ke Yahoo Messenger menggunakan ID pengguna Facebook atau Google.
  2. Di kolom Kata Sandi, masukkan kata sandi yang terkait dengan ID Yahoo Anda.
  3. Lihat pilihan sign in Yahoo Messenger opsional lain yang mungkin ingin Anda pilih:
    • Ingat ID & kata sandi saya: Pilih opsi ini agar jendela Sign In otomatis menampilkan ID Yahoo dan kata sandi Anda. Jika diaktifkan, Anda hanya tinggal mengklik tombol Sign In. Ini adalah pilihan yang tepat jika menggunakan komputer pribadi.

      Gambar penting! Penting! Jika lebih dari satu orang menggunakan Yahoo Messenger di komputer ini (seperti di tempat umum, misalnya perpustakaan), jangan gunakan Ingat ID & Kata Sandi saya. Anda ingin membuat Yahoo Messenger meminta ID Yahoo dan kata sandi setiap kali dijalankan di komputer umum.
    • Sign in otomatis: Pilih opsi ini jika Anda ingin sign in otomatis setiap kali menghidupkan komputer.
    • Sign in sebagai tidak terlihat: Pilih opsi ini jika Anda ingin tetap tidak terlihat.
  4. Klik Sign In dan Yahoo Messenger terbuka.
Informasi sign in tambahan:
Jika Anda tidak memiliki ID Yahoo, klik Dapatkan ID Yahoo baru di bawah kolom Kata Sandi untuk membuat akun Yahoo gratis.
Jika lupa kata sandi, klik Lupa Kata Sandi Anda? yang terletak di bagian bawah layar untuk mendapatkan kata sandi baru.
Pelajari lebih lanjut tentang keamanan dan privasi:
  • Yahoo mengatur keamanan Anda dengan serius dan berupaya untuk melindungi informasi Anda. Untuk mempelajari lebih lanjut tentang keamanan, buka Informasi Keamanan di Kebijakan Privasi Yahoo.
  • Untuk mempelajari lebih lanjut tentang cara mengurangi risiko keamanan saat online, kunjungi halaman informasi Yahoo Security Center.
Informasi berguna lainnya:

Makalah Qadariyah Dan Jabariyah



BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Pembahasan ilmu kalam sebagai hasil pengembangan masalah keyakinan agama belum muncul di zaman Nabi SAW. Umat di masa itu menerima sepenuhnya atas apa yang disampaikan Nabi SAW. Mereka tidak mempertanyakan secara filosofis apa yang diterima itu. Kalau terdapat kesamaran pemahaman, mereka langsung bertanya kepada Nabi dan umat pun merasa puas dan tenteram. Hal itu berubah setelah Nabi wafat. Nabi tempat bertanya sudah tidak ada. Pada waktu itu pengetahuan dan budaya umat semakin berkembang pesat karena terjadi persentuhan dengan berbagai bangsa dan budaya yang lebih maju.
Al-Syahrastānī menyebutkan beberapa prinsip yang merupakan dasar bagi pembagian aliran teologi dalam Islam. Di antara prinsip fundamental yang dibahas dalam ‘ilmu al-kalām yakni berkenaan dengan qadar dan keadilan Tuhan. Ketika ulama kalam membicarakan masalah qada dan qadar, dan hal itu mendorong mereka untuk membicarakan asas taklif, pahala dan siksa, mereka pun berselisih pendapat.
Tuhan adalah pencipta segala sesuatu, pencipta alam semesta termasuk di dalamnya perbuatan manusia itu sendiri. Tuhan juga bersifat Maha Kuasa dan memiliki kehendak yang bersifat mutlak dan absolut. Dari sinilah banyak timbul pertanyaan sampai di manakah manusia sebagai ciptaan Tuhan berg.antung pada kehendak dan kekuasaan mutlak Tuhan dalam menentukan perjalanan hidupnya? Apakah Tuhan memberi kebebasan terhadap manusia untuk mengatur hidupnya? Ataukah manusia terikat seluruhnya pada kehendak dan kekuasaan Tuhan yang absolut?
Menanggapi pertanyaan-pertanyaan tersebut maka muncullah dua paham yang saling bertolak belakang berkaitan dengan perbuatan manusia. Kedua paham tersebut dikenal dengan istilah Qadariyah dan Jabariah. Dalam makalah ini kami kemukakan pemahaman kedua aliran tersebut beserta hasil pemikiran-pemikirannya.

B.  Rumusan Masalah
Adapun Rumusan Masalah yang terdapat dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1.    Apa pengertian aliran qodariyah dan jabariyah?
2.    Apa latar belakang munculnya aliran qodariyah dan jabariyah?
3.    Apa doktrin-doktrin pokok aliran qodariyah dan jabariyah?
4.    Bagaimana sejarah perkembangan aliran qodariyah dan jabariyah?

C.  Tujuan
Dengan melihat rumusan masalah yang telah dipaparkan diatas, maka tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.    Mengetahui dan memahami pengertian aliran qodariyah dan jabariyah?
2.    Mengetahui dan memahami  latar belakang munculnya aliran qodariyah dan jabariyah?
3.    Mengetahui dan memahami doktrin-doktrin pokok aliran qodariyah dan jabariyah?
4.    Mengetahui dan memahami sejarah perkembangan aliran qodariyah dan jabariyah?














BAB II
PEMBAHASAN
A.  Pengertian Aliran Qodariyah dan Jabariyah
Istilah Qadariyah mengandung dua arti, pertama, orang-orang yang memandang manusia berkuasa atas perbuatannya dan bebas untuk berbuat. Dalam arti ini Qadariyah berasal dari kata qadara yang artinya berkuasa. Kedua, orang-orang yang memandang nasib manusia telah ditentukan sejak azali. Dengan demikian, qadara di sini berarti menentukan, yaitu ketentuan Tuhan atau nasib.
Qadariyah adalah satu aliran dalam teologi Islam yang berpendirian bahwa manusia memiliki kemerdekaan dan kebebasan dalam  perbuatan dan perjalanan hidupnya. Dengan demikian nama Qadariyah berasal dari pengertian bahwa manusia mempunyai qudrah atau kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya , dan bukan berasal dari pengertian bahwa manusia terpaksa tunduk pada qadar Tuhan. Dalam istilah inggris paham ini dikenal dengan nama free will dan free act.
Menurut mereka manusia bebas dan dalam memilih apa saja yang akan dikerjakan atau ditinggalkan, tidak ada seorang pun yang memiliki kuasa atas kemauannya kecuali dirinya sendiiri, dia bisa berpindah kapan pun dia mau, dia bisa beriman atau kafir jika mau dan mengerjakan apa saja yang diinginkannya. Karena kalau tidak, maka dia bagaikan sebuah alat atau seperti halnya dengan benda-benda mati lainnya. Sehingga asas taklif atau pemberian tanggung jawab, pemberian pahala dan siksa tidak ada gunanya.
Sedangkan nama Jabariyah berasal dari kata Arab jabara yang berarti alzama hu bi fi’lih, yaitu berkewajiban atau terpaksa dalam pekerjaannya. Manusia tidak mempunyai kemampuan dan kebebasan untuk melakukan sesuatu atau meninggalkan suatu perbuatan. Ia dipaksa melakukan kehendak atau perbuatannya sesuai dengan yang telah ditetapkan oleh Tuhan sejak zaman azali. Dalam filsafat Barat aliran ini desebut Fatalisme atau Predestinationisme. Paham ini menganggap semua takdir itu dari Allah. Oleh karena itu menurut mereka, seseorang menjadi kafir atau muslim adalah atas kehendak Allah.
B.  Latar Belakang Munculnya Aliran Qodaryah dan Jabariyah
Munculnya kedua paham ini tetap mempunyai kaitan dengan aliran-aliran Kalam sebelumnya yakni Khawārij dan Murji’ah, sementara itu dalam sejarah teologi Islam dikenal seseorang  seorang  bernama Washil bin ‘Atha’ yang lahir di Madinah di tahun 700 M dan mendirikan aliran teologi baru yang berbeda dengan kedua aliran teologi sebelumnya dan  dikenal dengan nama Mu’tazilah. Pada masa inilah umat Islam telah banyak mempunyai kontak dengan keyakinan-keyakinan dan pemikiran-pemikiran dari agama-agama lain dan filsafat Yunani.
Sebagai akibat dari kontak ini masuklah ke dalam Islam paham Qadariyah yang tidak diketahui dengan pasti kapan paham Qadariyah ini timbul dalam sejarah perkembangan teologi Islam. Tetapi menurut keterangan ahli-ahli teologi Islam, bahwa golongan ini dimunculkan pertama kali dalam Islam oleh Ma’bad al-Juhany di Bashrah. Dikatakan bahwa yang pertama kali berbicara dan berdebat masalah qadar adalah seorang Nasrani yang masuk Islam di Irak. Kemudian darinyalah paham ini diambil oleh Ma’bad al-Juhany dan temannya Ghailān al-Dimasyqi. Paham Qadariyah yang muncul sekitar tahun 70 H (689 M) ini memiliki ajaran yang sama dengan Mu’tazilah. Yaitu bahwa manusia mampu mewujudkan tindakan atau perbuatannya sendiri. Tuhan tidak campur tangan dalam perbuatan manusia itu, dan mereka menolak segala sesuatu terjadi karena qada dan qadar. Ma’bad al-Juhany sebagai tokoh utama paham Qadariyah yang menyebarkan paham Qadariyah di Irak ini juga berguru dengan Hasan al-Bashri yang juga merupakan guru Wāshil bin ‘Atha’ pendiri aliran Mu’tazilah.
Adapun aliran sebaliknya, yaitu dikenal dengan paham Jabariyah sebagai antitesa dari paham Qadariyah. Paham Jabariyah ini lahir bersamaan dengan paham Qadariyah. Di dalam buku Sarh al-‘Uyūn dikatakan bahwa paham Jabariyah ini berakar dari orang-orang Yahudi di Syām, lalu mereka mengajarkannya kepada sebagian orang muslim saat itu, setelah mempelajarinya kemudian mereka menyebarkannya.
Tetapi dari perkataan ini tidak berarti bahwa paham ini semata-mata berakar dari Yahudi saja, karena orang Persia juga telah mengenal pemikiran tersebut sebelumnya. Golongan muslim yang pertama kali memperkenalkan paham Jabariyah ini adalah al-Ja’d bin Dirham, tetapi waktu itu belum begitu berkembang. Kemudian Jahm bin Shafwān dari Khurāsān mempelajari paham ini dari al-Ja’d bin Dirham yang kemudian menyebar luaskannya. Jahm yang terdapat dalam aliran Jabariyah ini sama dengan Jahm yang mendirikan aliran al-Jahmiyyah dalam kalangan Murjiah. Sehingga paham Jabariyah juga identik dengan sebutan Jahmiyyah karena berkembang setelah disebarluaskan oleh Jahm bin Shafwān.

C.  Doktrin-doktrin Pokok Aliran Qodariyah dan Jabariyah
Adapun doktrin yang dikembangkan oleh kaum qadariyah ini diantaranya:
1.    Manusia mempunyai daya dan kekuatan untuk menentukan nasibnya, melakukan segala sesuatu yang diinginkan baik dan buruknya. meyakini bahwa Allah tidak ikut campur dalam kehidupan manusia sehingga manusia memiliki wewenang penuh dalam menentukan hidupnya dan dalam menentukan sikap. Jadi surga atau neraka yang didapatnya bukan merupakan takdir Tuhan melainkan karena kehendak dan perbuatannya sendiri.
2.    Qadariyah menyatakan bahwa manusia yang berbuat baik akan mendapat surga, sementara yang berbuat jahat akan mendapat ganjaran di neraka, kedua keputusan itu merupakan konsekuensi dari perbuatan yang dilakukan manusia berdasarkan kehendak dan pilihannya sendiri.
3.    Takdir merupakan ketentuan Allah terhadap alam semesta sejak zaman azali, manusia menyesuaikan terhadap alam semesta melalui upaya dan pemikirannya yang tercermin dalam kreatifitasnya.Secara alamiah manusia mempunyai takdir yang tak dapat diubah mengikuti hukum alam seperti tidak memiliki sayap untuk terbang, tetapi manusia memiliki daya untuk mengembangkan pemikiran dan daya kreatifitasnya sehingga manusia dapat menghasilkan karya untuk mengimbangi atau mengikuti hukum alam tersebut dengan menciptakan pesawat terbang.
Dan doktrin-doktrin pokok aliran jabariyah adalah sebagai berikut:
1. Jabariyah meyakini bahwa segala perbuatan manusia telah diatur dan dipaksa oleh Allah sehingga manusia tidak memiliki kemampuan dan kehendak dalam hidup.
2. Jabariyah menyatakan bahwa surga dan neraka tidak kekal, setiap manusia pasti merasakan surga dan neraka, setelah itu keduanya akan lenyap.
3. Takdir dalam pandangan kaum jabariyah memiliki makna bahwa segala perbuatan manusia telah ditentukan dan digariskan Allah SWT, sehingga tidak ada pilihan bagi manusia.
D. Sejarah Perkembangan Aliran Qodariyah dan Jabariyah
Tidak diketahui dengan pasti kapan paham Qadariyah ini timbul dalam sejarah perkembangan teologi Islam. Tetapi menurut keterangan ahli-ahli teologi Islam, bahwa golongan ini dimunculkan pertama kali dalam Islam oleh Ma’bad al-Juhany di Bashrah. Dikatakan bahwa yang pertama kali berbicara dan berdebat masalah qadar adalah seorang Nasrani yang masuk Islam di Irak. Kemudian darinyalah paham ini diambil oleh Ma’bad al-Juhany dan temannya Ghailān al-Dimasyqi. Ma’bad termasuk tabi’in atau generasi kedua setelah Nabi. Tetapi ia memasuki lapangan politik dan memihak ‘Abd al-Rahmān Ibn al-Asy’as, gubernur Sajistan, dalam menentang kekuasaan Bani Umayyah. Ma’bad al-Juhany akhirnya mati terbunuh dalam pertempuran melawan al-Hajjaj tahun 80 H.
Paham Qadariyah yang muncul sekitar tahun 70 H (689 M) ini memiliki ajaran yang sama dengan Mu’tazilah. Yaitu bahwa manusia mampu mewujudkan tindakan atau perbuatannya sendiri. Tuhan tidak campur tangan dalam perbuatan manusia itu, dan mereka menolak segala sesuatu terjadi karena qada dan qadar. Ma’bad al-Juhany sebagai tokoh utama paham Qadariyah yang menyebarkan paham Qadariyah di Irak ini juga pernah berguru kepada Hasan al-Bashri yang juga merupakan guru Wāshil bin ‘Atha’ pendiri aliran Mu’tazilah.
Paham free will dan free act beranggapan bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk bertindak (qudrah) dan memilih atau berkehendak (irādah). Dia yang melekukan, dia pula yang bertanggung jawab di hadapan Allah.
Dari segi politik, Qadariyah merupakan tantangan bagi dinasti Bani Umayyah, sebab dengan paham yang disebarluaskannya dapat membangkitkan pemberontakan. Dengan paham itu maka setiap tindakan bani Umayyah yang negatif, akan mendapat reaksi keras dari masyarakat. Karena kehadiran Qadariyah merupakan isyarat penentangan terhadap politik pemerintahan Bani Umayyah, walaupun ditekan terus oleh pemerintahan tetapi ia tetap berkembang. Dalam paham qodariyah terdapat banyak kesamaan dengan aliran Mu’tazilah.
Sepeninggal Ma’bad al-Juhany, Ghailān al-Dimasyqi sendiri terus menyiarkan paham Qadariyahnya di Damaskus, tetapi di sana dia mendapat tekanan dari Khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Azīz (717-720 M). Setelah ‘Umar wafat ia meneruskan kegiatannya yang lama, hingga akhirnya ia mati dihukum oleh Hisyam bin ‘Abdul malik (724-743 M/105-125 H). Ghailān al-Dimasyqi terus  mengembangkan paham dan ajaran Qadariyah ini sempai ke Iran.
Sementara golongan muslim yang pertama kali memperkenalkan paham Jabariyah ini adalah al-Ja’d bin Dirham, tetapi waktu itu belum begitu berkembang. Kemudian Jahm bin Shafwān dari Khurāsān mempelajari paham ini dari al-Ja’d bin Dirham yang kemudian menyebar luaskannya. Jahm yang terdapat dalam aliran Jabariyah ini sama dengan Jahm yang mendirikan aliran al-Jahmiyyah dalam kalangan Murjiah. Sehingga paham Jabariyah juga identik dengan sebutan Jahmiyyah karena berkembang setelah disebarluaskan oleh Jahm bin Shafwān yang merupakan  Sebagai sekretaris Syurayh ibn al-Hārits, ia turut dalam gerakan melawan kekuasaan Bani Umayyah. Dalam perlawanan tersebut Jahm ditangkap dan dihukum mati tahun 131 H.
Perbedaan pandangan dan persepsi kedua paham ini juga dipergunakan oleh budaya politik sesuatu tempat dan keadaan. Golongan Murjiah menganggap bahwa penderitaan rakyat di satu pihak dan kekejaman penguasa di pihak lain itu adalah sudah takdirnya demikian, seperti dinyatakan oleh Yāzid bin Mu’āwiyah waktu dia menerima kepala Sayidinā Husain bin ‘Abi Thālib dibawa kepadanya dia berkata dan langsung menyitir ayat alquran QS. Ali ‘Imrān(3) ayat 26. Dengan mengemukakan ayat ini, Yāzid bermaksud mengatakan bahwa apa yang diderita oleh Husain bin ‘Ali yang dibunuh dengan kejam oleh serdadu Yāzid bin Mu’āwiyah dari dinasti Umayyah itu, adalah sudah kehendak Tuhan, bukan kehendak Yāzid dan serdadunya. Agar umat yang mendukung Husain tidak marah atau dendam, karena itu “takdir” Tuhan semata-mata. Inilah ajaran Murjiah yang sangat kaku, di negeri yang dikuasai diktator despoot dan tirani. Hal ini ditentang oleh golongan Qadariyah, karena mereka menganggap bahwa tirani kekejaman dan penindasan oleh manusia atas manusia itu harus dilawan karena bertentangan dengan hukum Tuhan. Dan penguasa yang tirani harus ditumbangkan, karena dalam pandangan dan pemahaman mereka tidak akan mengubah suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.
Kemudiam dalam perkembangannya aliran qodariyah ini terbagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok ekstrim dan moderat.
1.    Jabariyah murni/ekstrim, kelompok ini beranggapan bahwa perbuatan-perbuatan diciptakan Tuhan di dalam diri manusia, tanpa ada kaitan sedikit pun dengan manusia, tidak ada kekuasaan, kemauan dan pilihan baginya. Manusia sama sekali tidak mampu untuk berbuat apa-apa, dan tidak memiliki daya untuk berbuat. Manusia bagaikan selembar bulu yang diterbangkan angin, mengikuti takdir yang membawanya. Manusia dipaksa, sama dengan gerak yang diciptakan Tuhan dalam benda-benda mati. Oleh karena itu manusia dikatakan “berbuat” bukan dalam arti sebenarnya, tetapi dalam arti majāzī atau kiasan. Seperti halnya “perbuatan” yang berasal dari benda-benda mati. Misalnya dikatakan: pohon berbuah, air mengalir,batu bergerak, matahari terbit dan terbenam, langit mendung dan menurunkan hujan, bumi bergerak dan menghasilkan tumbuh-tumbuhan, dan sebagainya. Selain itu, menurut mereka pahala dan dosa ditentukan sebagaimana halnya dengan semua perbuatan. Jika demikian, maka taklif atau pelaksanaan kewajiban dan tanggung jawab juga merupakan suatu paksaan. Kalau seseorang mencuri atau minum khamr misalnya, maka perbuatannya itu bukanlah terjadi atas kehendaknya sendiri, tetapi timbul karena qada dan qadar Tuhan yang menghendaki demikian. Dengan kata lain bahwa ia mencuri dan meminum khamr bukanlah atas kehendaknya tetapi Tuhanlah yang memaksanya untuk berbuat demikian.
2.    Jabariyah moderat, yang dibawa oleh al-Husain bin Muhammad al-Najjār. Dia mengatakan bahwa Allah berkehendak artinya bahwa dia tidak terpaksa atau dipaksa. Allah adalah pencipta dari semua perbuatan manusia, yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah, tetapi manusia mempunyai andil dalam perwujudan perbuatan-perbuatan itu. Tenaga yang diciptakan dalam diri manusia mempunyai efek untuk mewujudkan perbuatan-perbuatannnya. Dan inilah yang disebut dengan kasb. Paham jabariyah moderat  ini juga dibawakan oleh Dhirār bin ‘Amru. Ketika dia mengatakan bahwa perbuatan-perbuatan manusia pada hakikatnya diciptakan oleh Allah, dan manusia juga pada hakikatnya memiliki bahagian untuk mewujudkan berbuatannya. Dengan demikian, menurutnya bisa saja sebuah tindakan dilakukan oleh dua pelaku.
Paham moderat ini mengakui adanya intervensi manusia dalam perbuatannya. Karena manusia telah memiliki bahagian yang efektif dalam mewujudkan perbuatannya. Sehingga manusia tidak lagi seperti wayang yang digerakkan dalang. Menurut paham ini, Tuhan dan manusia bekerja sama dalam mewujudkan perbuatan-perbuatan manusia, yang baik ataupun yang buruk.
 
















BAB III
KESIMPULAN
A.  Kesimpulan
Qodariyah adalah suatu aliran yang percaya bahwa segala tindakan manusia tidak diintervensi oleh Tuhan, melainkan mereka sendiri yang melakukan. Qodariyah pertama kali dimunculkan oleh Ma’bad Al Jauhari dan Ghailan Ad-Dimasyqi, ada pula pendapat yang mengatakan bahwa yang pertama kali memunculkan faham Qadariyah adalah orang Irak yang semula beragama Kristen kemudian masuk Islam dan kembali lagi ke agama Kristen .
Jabariyah adalah paham yang menganggap semua takdir itu dari Allah.  Dan yang pertama kali mengenalkannya adalah Ja’ad bin Dirham kemudian disebarkan oleh Jahm bin Shafwan dari Khurasan. Faham Al-Jabar juga dikembangkan oleh tokoh lainnya diantaranya Al-Husain bin Muhammad An-Najr dan Ja’ad bin Dirrar. Faham Al-Jabar sejak awal periode Islam. Benih-benih itu terlihat pada masa Rasulullah tentang taqdir dan qadha’ dan qadar.
B.  Saran
          Dengan demikian sebagai penulis makalah ini kami meminta saran dan kritik karena masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki agar teman-teman mahasiswa yang membaca ataupun Dosen yang membimbing agar memberikan masukan demi kesempurnaan penulisan Makalah yang berjudul ”Aliran Qodariyah dab Jabariyah”.










DAFTAR PUSTAKA
Mustopa, Mazhab-Mazhab Ilmu Kalam, (Cirebon : IAIN Nurjati publisher, 2011)
Abbas Sirajdjuddin, I’tiqad ahlussunah waljamaah (Jakarta : Pustaka Tarbiyah Baru, 2008)